Dalimi Tuding Nurdiansyah Catut Nama Ulama Demi Legitimasi

BANDA ACEH - Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Dalimi, mengecam beredarnya materi publikasi yang menggiring opini seolah-olah ulama Aceh, Abu Mudi, memberikan dukungan kepada Nurdiansyah Alasta...

BANDA ACEH – Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Dalimi, mengecam beredarnya materi publikasi yang menggiring opini seolah-olah ulama Aceh, Abu Mudi, memberikan dukungan kepada Nurdiansyah Alasta dalam Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh.

Dalimi menilai pencatutan nama ulama tanpa izin merupakan tindakan yang tidak beretika dan berpotensi menyesatkan publik.

“Hasil tabayyun kami kepada Abu Mudi sangat jelas. Beliau menegaskan tidak mendukung Nurdiansyah Alasta. Beliau juga menjelaskan tidak ingin dilibatkan dalam urusan internal partai,” kata Dalimi kepada media pada Selasa, 21 Juli 2026

Dia menyebutkan, siapa pun pihak yang membuat maupun menyebarkan materi publikasi tersebut justru telah merugikan dan mempermalukan Nurdiansyah sendiri.

“Kalau benar ada pihak yang membangun kesan seolah-olah Abu Mudi mendukung Nurdiansyah, justru yang paling dirugikan adalah Nurdiansyah sendiri. Cara-cara seperti ini mempermalukan diri sendiri dan menjatuhkan martabat,” katanya.

Dalimi mengatakan, ambisi politik tidak boleh menghalalkan segala cara, termasuk mencatut nama ulama demi memperoleh legitimasi.

“Ambisi politik tidak boleh menghalalkan segala cara. Mencatut nama Abu Mudi tanpa izin bukan hanya mempermalukan diri sendiri, tetapi juga mencederai kehormatan ulama. Nama ulama tidak boleh dipakai sebagai alat untuk mencari legitimasi politik,” kata dia.

Dia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Abu Mudi atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat pencatutan nama tersebut.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Abu Mudi. Kami sangat menyesalkan tindakan oknum yang membawa nama ulama ke dalam kontestasi internal partai tanpa izin dan tanpa persetujuan beliau,” katanya.

Dalimi prihatin sekaligus malu atas peristiwa tersebut. Selama hampir 25 tahun menjadi bagian dari Partai Demokrat, ia mengaku baru kali ini menyaksikan praktik politik yang mencatut nama ulama dalam kontestasi internal partai.

“Selama hampir 25 tahun saya berada di Partai Demokrat, baru kali ini saya melihat nama seorang ulama dicatut secara terang-terangan untuk kepentingan kontestasi internal partai. Ini memalukan dan sama sekali tidak mencerminkan tradisi politik Partai Demokrat,” ujarnya.

Menurut Dalimi, tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai politik yang selama ini diajarkan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Partai Demokrat mengajarkan politik yang santun, berintegritas, dan menghormati ulama. Kepercayaan tidak dibangun melalui manipulasi opini atau pencatutan nama tokoh, tetapi melalui pengabdian, rekam jejak, dan integritas. Cara-cara seperti ini tidak memiliki tempat di Partai Demokrat,” kata Dalimi.***