Alasan Trump Batal Gempur Iran: Stok Rudal Pencegat THAAD AS Terkuras hingga 80 Persen - Serambinews.com

Stok Rudal THAAD Terkuras 80 Persen, Donald Trump Batal Gempur Iran

Presiden AS Donald Trump membatalkan serangan balasan ke Iran akibat krisis stok rudal pencegat THAAD yang terkuras hingga 80 persen.

WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak membatalkan rencana serangan balasan berskala besar terhadap Iran akibat krisis pasokan amunisi pertahanan udara militer Negeri Paman Sam. Keputusan krusial tersebut diambil menyusul temuan bahwa stok amunisi rudal pencegat pada sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik AS telah terkuras hingga mencapai 80 persen dari total persediaan.

Defisit Amunisi Pertahanan Udara

Keputusan pembatalan agresi militer ini menguak kerentanan serius pada pasokan persenjataan strategis militer Amerika Serikat. Sistem pertahanan THAAD, yang menjadi benteng pertahanan utama terhadap ancaman serangan rudal balistik, mengalami penyusutan persediaan amunisi yang sangat drastis. Penurunan persediaan hingga 80 persen tersebut secara langsung membatasi ruang gerak operasional militer Amerika Serikat untuk melancarkan aksi balasan tanpa mengorbankan keamanan pangkalan dan aset strategis mereka.

Defisit amunisi pencegat yang signifikan ini menempatkan posisi militer AS dan sekutunya dalam risiko tinggi apabila pihak Iran melancarkan balasan menggunakan gelombang rudal lanjutan. Tanpa ketersediaan amunisi sistem THAAD yang memadai, efektivitas penangkalan terhadap gempuran serangan udara lawan dipastikan menurun secara drastis.

Tekanan Negara-Negara Teluk

Selain faktor keterbatasan logistik dan persenjataan tempur, pembatalan aksi gempuran balasan ini dipengaruhi oleh tingginya kekhawatiran dari negara-negara di kawasan Teluk. Pemerintah negara-negara sekutu Amerika Serikat di wilayah Teluk menyampaikan kecemasan mendalam terkait potensi serangan balasan dari militer Iran yang membidik fasilitas energi vital serta pusat-pusat industri strategis di kawasan tersebut.

Serangan terhadap kilang minyak, fasilitas pemrosesan gas, serta instalasi ekspor di kawasan Teluk dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia dan memicu guncangan ekonomi global secara luas. Pertimbangan mengenai keselamatan infrastruktur kritis sekutu dan potensi dampak terhadap pasar energi internasional tersebut pada akhirnya memaksa pemerintah Amerika Serikat untuk mengurungkan niat penyerangan.

Temuan CSIS dan Risiko Kesiapan Tempur

Krisis ketersediaan pasokan senjata ini mengonfirmasi hasil analisis yang tertuang dalam laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS). Lembaga pemikir pertahanan dan keamanan global tersebut menyoroti penurunan secara drastis pada berbagai persediaan persenjataan canggih milik Amerika Serikat, yang tidak hanya terbatas pada amunisi sistem THAAD.

Berdasarkan kajian CSIS, jenis persenjataan strategis lain seperti rudal pencegat Patriot dan rudal jelajah Tomahawk juga mengalami penipisan stok yang amat mengkhawatirkan. Kondisi terkurasnya persediaan persenjataan utama ini dinilai CSIS berpotensi besar mengancam tingkat kesiapan tempur global militer Amerika Serikat dalam merespons berbagai potensi ancaman pertahanan di kawasan geopolitik strategis lainnya.

80%
Stok rudal THAAD AS terkuras

Berita Terbaru