Pengoperasian Jalan Tol Lengangkan Jalur Seulawah, Perekonomian Pedagang Saree dan Lamtamot Terancam

Aktivitas lintas kendaraan di Lembah Seulawah menyusut tajam usai beroperasinya jalan tol, memicu ancaman kelumpuhan ekonomi pedagang Saree dan Lamtamot.

ACEH BESAR — Ruas Jalan Nasional Banda Aceh–Medan yang melintasi Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan mengalami penurunan mobilitas kendaraan secara signifikan usai beroperasinya jalan tol, memicu ancaman kelumpuhan bagi denyut perekonomian warga setempat.

Kawasan jalan lintas antarprovinsi yang selama ini menjadi pusat persinggahan dan tumpuan ekonomi masyarakat kini mendadak lengang. Penurunan volume arus lalu lintas tersebut terjadi secara cepat, mengubah pemandangan harian koridor utama yang menghubungkan pusat Provinsi Aceh dengan wilayah Sumatera Utara tersebut.

Urat Nadi Transportasi Menyusut Drastis

Sebelum beroperasinya jalur bebas hambatan, ruas jalan nasional di kawasan Lembah Seulawah merupakan urat nadi transportasi yang sangat aktif. Jalur ini tidak pernah berhenti berdenyut selama 24 jam penuh setiap harinya, disesaki oleh arus hilir mudik bus antarkota antarprovinsi (AKAP), minibus angkutan umum, hingga truk-truk ekspedisi pengangkut logistik dan komoditas.

Namun, pergeseran pola perjalanan kendaraan roda empat atau lebih ke akses jalan tol memangkas intensitas lintasan di jalan arteri tersebut. Hilir mudik armada angkutan massal dan kendaraan niaga berat yang lazim melintas secara reguler kini terpangkas drastis, menyisakan jalur aspal yang jauh lebih sepi dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Sentra UMKM Saree dan Lamtamot Terpukul

Kondisi lengangnya lintasan arteri tersebut memberikan imbas langsung terhadap stabilitas ekonomi warga di dua kawasan sentra utama, yakni Kemukiman Saree dan Kemukiman Gunung Biram di Lamtamot. Kedua wilayah strategis di Kecamatan Lembah Seulawah ini selama beberapa dekade telah berkembang menjadi episentrum perdagangan mikro dan tempat istirahat andalan bagi para pengguna jalan lintas timur-utara Sumatera.

Di wilayah Saree, deretan kios kuliner khas, gerai hasil pertanian lokal seperti ubi, sayur-mayur, keripik, hingga aneka olahan tape yang mengandalkan kedatangan penumpang bus dan pelintas kini menghadapi penurunan omzet tajam. Hal serupa dirasakan di kawasan Lamtamot (Kemukiman Gunung Biram), di mana warung makan dan penyedia jasa singgah lainnya kehilangan basis konsumen utama yang beralih melintasi tol tanpa melintasi rute darat tradisional Seulawah.

Ancaman Mati Suri Ekonomi Kawasan

Ketergantungan ekonomi warga Lembah Seulawah terhadap kelangsungan arus kendaraan di jalur nasional sangat tinggi. Ketika frekuensi kendaraan yang singgah menyusut tajam, rantai pasok lokal dan perputaran uang di tingkat pedagang kecil terancam berhenti berputar secara berkelanjutan.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran besar akan potensi mati suri bagi ekosistem perdagangan di sepanjang lintasan Saree dan Lamtamot. Tanpa adanya strategi mitigasi, penyesuaian pasar, atau upaya integrasi antara pengoperasian tol dan aksesibilitas sentra ekonomi lokal, kawasan perdagangan tradisional yang menjadi ikon persinggahan di Aceh Besar ini berisiko kehilangan sumber pendapatan utamanya dalam jangka panjang.


Read this article in English.