Sektor hulu minyak dan gas bumi di Aceh memasuki babak baru setelah terjadi pergantian kepemimpinan di Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, resmi melantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA yang baru. Pergantian kepemimpinan ini menjadi perhatian penting karena BPMA memegang peran strategis dalam mengelola kekayaan alam dan menjaga iklim investasi migas di Aceh.
Diusulkan Pemerintah Aceh dan Dilantik Menteri ESDM
Pelantikan Mawardi Nur dilakukan secara resmi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Rabu (5/8/2026). Keputusan ini diambil sebagai tindak lanjut atas usulan evaluasi yang diajukan oleh Pemerintah Aceh.
Proses rotasi kepemimpinan ini diharapkan mampu memperkuat tata kelola migas serta meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh dalam mengoptimalkan potensi daerah.
Sikap Legowo Nasri Djalal Menyikapi Pergantian
Di sisi lain, mantan Kepala BPMA Nasri Djalal menyikapi keputusan ini dengan lapang dada. Ia menyatakan menerima dengan baik keputusan Menteri ESDM yang melantik Mawardi Nur sebagai penerusnya.
Sikap legowo yang ditunjukkan Nasri Djalal mencerminkan komitmen kepemimpinan yang berfokus pada keberlanjutan organisasi dan kepentingan penguatan sektor migas Aceh ke depan.
Pergantian pimpinan di tubuh BPMA kini memberikan wewenang baru bagi Mawardi Nur untuk membawa lembaga ini semakin produktif. Tantangan utama yang menanti adalah mengawal proyek-proyek strategis migas agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Aceh.
Rangkaian pemberitaan terkait:
Mantan Kepala BPMA Nasri Djalal menyatakan menerima keputusan pergantian dirinya setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melantik Mawardi Nur.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA pada Rabu (5/8/2026), menindaklanjuti usulan evaluasi dari Pemerintah Aceh.
Nasri Djalal menerima keputusan pergantian dirinya setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia resmi melantik Mawardi Nur sebagai Kepala BPMA.